MOTO:

Unggul dalam Prestasi
Tangguh dalam Kompetisi
Santun dalam Pekerti

Rabu, 28 Januari 2009

Cogito Ergo Sum

Yoi, pasti sudah sering kan dengar ungkapan di atas?
Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. Artinya adalah: "aku berpikir maka aku ada". Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.
Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.
Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.
Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir, sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, aku berpikir maka aku ada.
Manusia yang tidak mau berpikir atau menggunakan pikirannya sama saja dengan tidak ada, sebab ia akan tersesat ke arah yang salah.
(Admin tea)

Menjelang UNAS, apa yang kau lakukan siswaku?

Dulu waktu saya kelas 3 SMA (1995) menjelang Ujian nasional, waktu itu namanya EBTANAS, nuansa sunyi dan serius sangat kental menghiasi sekolah kami, SMAN 2 Jombang. Sepertinya semua siswa sudah menyadari bahwa inilah perjuangan terakhir kami di bangku SMA, tidak boleh gagal. Jarang ada kelas kosong atau murid keluyuran ketika jam pelajaran. Yang ada hanya jam pelajaran tambahan yang betul-betul diikuti oleh semua siswa (kecuali yang sakit tentunya). Bagaimanapun juga kami takut tidak lulus atau lulus dengan nilai jelek. Jika itu terjadi, kami akan malu kepada orang tua, teman, tetangga, dan terlebih kepada sekolah kami, sebab sekolah kami adalah sekolah number one di Kabupaten Jombang.
Kini suasana seperti itu ternyata tidak saya temui dirasakan oleh murid-murid saya. Menjelang UNAS, kurang dari 3 bulan, masih belum terasa atmosfernya. Anak-anak kelas XII masih santai, cuek, pacaran aja, canda terus, bolos, hampir tiap hari ada yang ijin pulang pas jam pelajaran. Heran betul saya. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Kelihatannya sama sekali tidak mengkhawatirkan UNAS. Bahkan terkesan mereka merasa aman dan yakin banget "PASTI LULUS".
Mungkin hal ini disebabkan mereka sudah siap banget (padahal belum, saya yakin), atau adanya sugesti dari kenyataan bahwa tahun kemarin siswa kelas XII lulus semua. Intinya, sebagai ujian terakhir persekolahan, UNAS hanya dipandang sebelah mata (kelihatannya lho). Hal yang menurut saya sangat ironi, karena UNAS seharusnya disambut dengan persiapan yang ekstra rajin, ekstra disiplin, ekstra belajar. Lho, ini kan UJIAN AKHIR Nak, walaupun tidak menentukan seluruh hidupmu.
(guru komputer akuntansi SMAGA Bppn)

Soal jadi Juara? Nih Koleksinya

Soal jadi Juara? Nih Koleksinya
Banyak banget ya! Eh, masih banyak lho

sama ini

sama ini

Ini juga!

Ini juga!

Mengenai Saya

Foto saya
Belajar bukan hanya untuk ijazah, tetapi untuk hidup. (Non Scholae Sed Vitae Discimus)