Dulu waktu saya kelas 3 SMA (1995) menjelang Ujian nasional, waktu itu namanya EBTANAS, nuansa sunyi dan serius sangat kental menghiasi sekolah kami, SMAN 2 Jombang. Sepertinya semua siswa sudah menyadari bahwa inilah perjuangan terakhir kami di bangku SMA, tidak boleh gagal. Jarang ada kelas kosong atau murid keluyuran ketika jam pelajaran. Yang ada hanya jam pelajaran tambahan yang betul-betul diikuti oleh semua siswa (kecuali yang sakit tentunya). Bagaimanapun juga kami takut tidak lulus atau lulus dengan nilai jelek. Jika itu terjadi, kami akan malu kepada orang tua, teman, tetangga, dan terlebih kepada sekolah kami, sebab sekolah kami adalah sekolah number one di Kabupaten Jombang.
Kini suasana seperti itu ternyata tidak saya temui dirasakan oleh murid-murid saya. Menjelang UNAS, kurang dari 3 bulan, masih belum terasa atmosfernya. Anak-anak kelas XII masih santai, cuek, pacaran aja, canda terus, bolos, hampir tiap hari ada yang ijin pulang pas jam pelajaran. Heran betul saya. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Kelihatannya sama sekali tidak mengkhawatirkan UNAS. Bahkan terkesan mereka merasa aman dan yakin banget "PASTI LULUS".
Mungkin hal ini disebabkan mereka sudah siap banget (padahal belum, saya yakin), atau adanya sugesti dari kenyataan bahwa tahun kemarin siswa kelas XII lulus semua. Intinya, sebagai ujian terakhir persekolahan, UNAS hanya dipandang sebelah mata (kelihatannya lho). Hal yang menurut saya sangat ironi, karena UNAS seharusnya disambut dengan persiapan yang ekstra rajin, ekstra disiplin, ekstra belajar. Lho, ini kan UJIAN AKHIR Nak, walaupun tidak menentukan seluruh hidupmu.
(guru komputer akuntansi SMAGA Bppn)
Rabu, 28 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Soal jadi Juara? Nih Koleksinya
Banyak banget ya! Eh, masih banyak lho
sama ini
Ini juga!
Arsip Blog
Mengenai Saya
- SMA Negeri 3 Balikpapan
- Belajar bukan hanya untuk ijazah, tetapi untuk hidup. (Non Scholae Sed Vitae Discimus)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar